Video of the day

Utama

1 2 3 4

Kebencian itu Awal dari Hidayah

Ia marah dengan Islam. “Aku merasa agama dan para pengikutnya telah menyerbu negara saya, “ ujarnya

Oleh: M. Syamsi Ali
Rabu, 10 Pebruari, kota New York sedang dilanda badai salju. Sejak tengah malam lalu, salju turun tiada henti membuat jalanan menjadi sepi dan licin. Kebanyakan warga memilih tinggal di rumah, berbagai institusi ditutup sementara, termasuk sekolah-sekolah dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Aku sendiri cukup malas untuk meninggalkan rumah pagi. Tapi entah apa, rasanya aku tetap terpanggil untuk melangkahkan kaki menuju kantor PTRI, dan selanjutnya ke Islamic Center. Ternyata kantor PTRI juga pagi ini hanya dibuka hingga pukul 12 siang.
Aku segera menuju Islamic Cultural Center of New York dengan tujuan sekedar shalat dzuhur dan asar sekalian. Lazimnya, ketika ada badai salju atau hujan lebat, jama’ah meminta untuk menjama’ shalat. Setiba di Islamic Center aku segera menuju ruang shalat, selain untuk melihat apakah pemanas ruangan telah dinyalakan atau belum, juga untuk shalat sunnah.
Tiba-tiba saja Sekretaris memanggil, “Some one is waiting for you!”. “Let me do my sunnah and will be there!,” jawabku.
Setelah shalat sunnah, segera aku menuju ke ruang perkantoran Islamic Center. Di ruang tamu sudah ada seseorang yang relatif berumur, tapi nampak elegan dalam berpakaian. “Hi, good morning!,” sapaku. “Good morning!,” jawabnya dengan sangat sopan dan ramah. “Waiting for me?,” tanyaku sambil menjabat tangan. “Yes, and I am sorry to bother you at this early time,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengajak pria berkulit putih tersebut ke ruangan kantor aku. Dengan berbasa-basi aku katakan “Wah mudah-mudahan Anda diberikan pahala atas perjuangan mengunjungi Islamic Center dalam suasana cuaca seperti ini,” kataku. “Oh not at all!. We used to this kind of weather,” jawabnya.
“So, what I can do for you this morning,” tanyaku memulai pembicaraan. Tanpa aku sadari orang tersebut masih berdiri di depan pintu. Barangkali dia tidak ingin lancang duduk tanpa dipersilahkan. Memang dia nampak sopan, tapi dari kata-katanya dapat dipahami bahwa dia cukup terdidik.
“Please do have your sit!,” kataku. “Thanks sir!,” jawabnya singkat.
Setelah duduk Aku ulangi lagi, pertanyaan sebelumnya “what I can do for you this morning?.” Sambil membalik posisi duduknya, dia melihat ke arahku dengan sedikit serius, tapi tetap dengan senyumnya. “I am here for….,’ seolah terhenti..”for some clarifications!,” jawabnya. Intinya, ia mengaku telah banyak membaca, mengamati dan belajar agama. "Harus jujur Aku tahu tentang hal itu banyak," jelasnya.
“That’s great!,” selaku. Dia mengaku, dari waktu ke waktu, pertanyaan tentang agamanya terus bertambah. Sementara perasaan terhadap Islam justru makin tumbuh.
Pria itu, merubah posisi duduknya dan bercerita. "Aku dulu sangat marah. Aku benar-benar membenci agama ini!, jelasnya. “Aku merasa agama dan para pengikutnya telah menyerbu negara saya, “ tambahnya dengan sangat serius. "Jadi, apa yang terjadi?, pancingku menyambung ceritanya.
Singkatnya, aku menuliskan beberapa catatan ceritanya, bagaimana kebenciannya kepada agama Islam menjadi awal ‘kehausan’ untuk mencari tahu. Suatu hari dia membeli makanan di pinggir jalan (Halal Food) di kota Manhattan. Sekedar untuk diketahui, mayoritas mereka yang jual makanan di pinggir jalan di kota New York adalah Muslim. Lalu menurutnya, di gerobak penjual makanan itu tertulis “Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah” dalam bahasa Arab. Kebenciannya yang amat sangat kepada Islam, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mengata-ngatai penjual makanan itu dengan kalimat, “don’t turn people away from buying your food with that ….(bad word)’, katanya sinis!.
Tapi menurutnya lagi, sang penjual itu tidak menjawab dan hanya tersenyum, bahkan merespon dengan “Thank you for coming my friend!.”
Singkatnya, menurut dia lagi, sikap ramah si penjual makanan itu selalu teringat dalam pikirannya. Bahkan sikap itu menjadikannya merasa bersalah, tapi pantang untuk datang meminta maaf. Ketidak inginannya meminta maaf itu, katanya sekali lagi, karena kebenciannya kepada agama ini (Islam, red). "Itu benar-benar membuat saya marah kepada diri saya, namun di saat yang sama, saya benar-benar ingin tahu,” sambungnya.
“Awalnya, aku hanya googling beberapa informasi mengenai agama. Kemudian mendengarkan beberapa ceramah di Youtube (terutama ceramah Hamzah Yusuf), “ ujarnya. Setelah itu kemudian membeli beberapa buku karangan non Muslim, termasuk sejarah Rasul oleh Karen Amstrong, Syari’ah oleh John Esposito, dll.
"Semakin saya pelajari, semakin aku merasa menjadi curiga dan bingung,” akunya. “Tapi apakah Anda pernah berpikir sebelumnya, mengapa begitu?,” ujarku. “Saya tidak tahu, saya kira faktor media, katanya. Yang jelas, setiap kali dia melihat pemboman, pembunuhan, pengrusakan, dan bahkan beberapa aksi film, ada-ada saja Muslim yang terkait. "Saya benar-benar tidak tahu dan bingung, apa yang sedang dipraktikkan orang-orang Islam ini?."
Dia kembali berbicara panjang, seolah menyampaikan ceramah kepadaku tentang “jurang besar” antara ilmu tentang Islam yang dia pahami dan berbagai perangai yang dia lihat dari beberapa Muslim selama ini. Di satu sisi, dia kagum dengan sikap penjual makanan tadi. Tapi di satu sisi, dia marah dengan sikap beberapa orang Islam yang justru melakukan apa yang disebutnya sebagai “kejahatan atas nama Islam.” “Dan demikian, aku pada pihak mana? Apakah suatu hari nanti aku akan menjadi seorang Muslim?, tanyanya pada dirinya sendiri.
Setelah selesai, aku kemudian memulai mengambil kendali. “Pertama, saya ucapkan selamat!,” kataku singkat. Tapi justu nampak bingung dengan ucapanku itu.
Segera aku sambung ‘You have been a real American!’. Dia tersenyum tapi masih belum paham.
“Kemarahan Anda dapat dimengerti,” kataku. Pertama-tama, karena Anda tidak tahu dan akan mencari serta bertanya tetang itu. Kedua, faktor media dan obat untuk itu adalah memperjelas. Dan saya pikir Anda melakukan yang kedua, “ tambahku
Aku mengajaknya mendiskusikan berbagai hal. Mulai dari sejarah peperangan, terorisme, pembunuhan, pengrusakan, dari dulu hingga sekarang. Dan sebaliknya, bagaimana Islam telah memainkan peranan besar dalam membangun peradaban manusia.
“Sepanjang sejarah manusia, apa yang Anda lihat sekarang ini tidaklah terlalu mengejutkan dan hal baru. Berapa banyak nyawa telah diambil, properti dihancurkan dan rumah rusak?,” tanyaku. "Dan dari awal Nabi Muhammad mengajarkan agama ini pada abad ke-7 di Arabia, hingga hari ini, berapa banyak perang dan pembunuhan yang telah melibatkan Muslim sebagai pelaku?,” pancingku lagi.
Dia nampak hanya geleng-geleng kepala dengan contoh-contoh yang aku berikan. Dari Hitler, Stalin, Perang Dunia I dan II, Hiroshima dan Nagasaki , dst. Berapa diantara mereka yang terbunuh, dan siapa yang melakukan? Peperangan di Iraq, berapa yang terbunuh ketika jet-jet Amerika mendrop boms di perkampungan- perkampungan? Siapa mayoritas tentara Amerika?
Kemudian, pernahkan dilakukan studi secara dekat, untuk mengetahui apakah benar bahwa pemboman, pembunuhan, pengrusakan yang dilakukan oleh beberapa Muslim selama ini, walau atas nama Islam, memang dibenarkan oleh Islam? Dan benarkah bahwa memang motifnya karena memperjuangkan Islam dan Muslim, atau karena memang Islam dan Muslim adalah jembatan menuju kepada ‘interest’ tertentu?, ceritaku panjang lebar.
Tak terasa, waktu adzan dhuhur telah tiba. “Sorry, that is what we call adzan or the call to pray,” jelasku. Aku diam sejenak, dia juga nampak diam mendengarkan adzan dari Sheikh Farahat, muadzin yang baru diterima sebagai pegawai di Islamic Center. Suara tammatan Al-Azhar ini memang sangat indah.
Setelah adzan, aku kembali menyambung pembicaraan. Saat ini kita membicarakan berbagai ketidakadilan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Secara ekonomi hanya segelintir yang menikmati kue alam, secara politik ada pemaksaan sistemik kepada negara lain, dst.
“Dengan semua ini, dan tidak ada cara untuk mengatakan bahwa pembunuhan, terutama ketika kita sampai pada kehidupan dan warga sipil tak berdosa, adalah dibenarkan atas nama berjuang untuk keadilan,” lanjutku.
Tapi karena waktu sangat singkat, aku bertanya “Apa pendapatmu? Apakah ada hal yang membuat Anda berkeberatan?, " pancingku. Dia nampak diam, tapi tersenyum dan mencoba berbicara.
“You are right!,” katanya singkat. "Aku sudah tidak adil untuk diri saya sendiri! Asosiasi saya terhadap Islam dan perilaku sebagian kaum Muslim benar-benar tidak adil.”
“You got the point, sir!”, jawabku singkat. “Sekarang, saya meminta izin sesaat untuk shalat.” Tiba-tiba saja dia melihatku dengan sedikit serius. Kali ini tanpa senyum dan berkata “Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi seorang Muslim?” tanyanya. “Are you serious?” tanyaku. “Yes!” , jawabnya singkat. “Follow me!”, ajakku.
Aku ajak dia ke ruang wudhu, mengajarinya berwudhu, lalu ke ruang shalat. Sambil menunggu waktu iqamah, aku menyampaikan kepadanya. "Apa yang akan saya lakukan adalah membawa Anda untuk menyatakan iman Anda yang baru dengan apa yang kita sebut syahadat. Dan itu adalah untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya,” jelasku seraya mengingatkan apa yang pernah dia lihat dahulu di gerobak penjual makanan itu.
Sebelum iqamah dimulai aku ajak, Peter Scott, begitu nama pria tersebut, ke depan jama’ah dan menuntunnya mengucapkan “Asy-hadu anlaa ilaaha illa Allah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah,” seraya diikuti gema takbir sekitar 200-an jama’ah shalat Dhuhr hari ini.
“Peter, Anda seorang Muslim sekarang, seperti orang lain di sini hari ini. Tidak ada diantara Anda yang kurang. Sebenarnya, Anda lebih baik dari kami karena Anda dipilih untuk menjadi, bukan hanya dilahirkan ke dalamnya dan mengikutinya,” jelasku sambil meminta untuk mengikuti gerakan-gerakan shalat sebisanya, tapi dengan konsentrasi.
Allahu Akbar! Semoga Peter selalu dijaga dan dijadikan pejuang di jalanNya! [New York, 10 Pebruari 2010/www.hidayatullah.com]
Ler Mais

Islam Mekar Di Jepang


Masyarakat Muslim di Jepang mungkin memiliki profil yang sederhana, tetapi mereka terus berkembang. Muslim Jepang terus berusaha mengatasi kesulitan yang mereka hadapi untuk beradaptasi dengan kehidupan di negara raksasa Asia.

"Saya percaya ketertarikan masyarakat akan Islam telah meningkat," kata Hirofumi Tanada, profesor ilmu manusia di Universitas Waseda Tokyo, kepada The Japan Times.

Islam mulai ada di Jepang pada tahun 1920 melalui imigrasi beberapa ratus Muslim Turki dari Rusia karena evolusi Rusia.

Pada tahun 1930, jumlah Muslim Jepang mencapai sekitar 1000 orang dengan asal-usul yang berbeda.

Gelombang imigran berikutnya pada tahun 1980 mulai menyertakan buruh dari Iran, Pakistan dan Bangladesh.

Sekarang, Jepang adalah rumah bagi masyarakat Muslim dengan jumlah sekitar 120.000 orang. Penduduk Jepang sendiri berjumlah hampir 127 juta orang, menjadikannya sebagai negara kesepuluh di dunia yang paling padat penduduknya.

Tanada mengatakan bahwa faktor-faktor seperti pertukaran pelajar dan pekerja membuat populasi Muslim di Jepang semakin meningkat dan terus meningkat.

"Ada banyak Muslim yang telah menikah dan menetap dengan keluarga mereka di Jepang,," kata profesor Tanada.

Ada juga peningkatan jumlah orang Jepang yang memeluk Islam yang saat ini diperkirakan mencapai 10.000 orang, tambahnya.

Banyak wanita Jepang memeluk Islam setelah menikah dengan pria Muslim.

Dan seiring dengan pertumbuhan jumlah umat Muslim yang pesat, sekarang ini banyak bermunculan pelayanan katering dan gerai makanan halal di Tokyo.

Ada sekitar 60 masjid, dan lebih dari 100 musalla atau area terbatas lainnya untuk melaksanakan salat, dan tersebar di seluruh Jepang.

Meskipun Muslim mengalami kesulitan mengikuti salat lima waktu di masjid-masjid, namun untuk salat Jumat, mereka selalu menyempatkan diri.

Tokyo Camii, juga dikenal sebagai Masjid Tokyo, salah satu masjid tertua di Jepang menampung lebih dari 400 sampai 500 Muslim setiap Jumat siang, sebagian besar dari mereka berasal dari Pakistan, Malaysia dan Indonesia.

Kesulitan Muslim Jepang

Tapi kehidupan di Jepang tidak selalu mudah bagi umat Islam.

Ihsan Bhai, seorang Muslim yang telah tinggal di negara ini selama 16 tahun terakhir, mampu beradaptasi dengan masyarakat Jepang, tetapi istri dan anak-anaknya merasa kesulitan untuk menjadi seorang Muslim di negara ini.

"Saya berharap anak-anak dan orang tua Jepang bisa menerima bahwa ada berbagai jenis orang di dunia ini," kata istri Ihsan Bhai.

Ada juga kendala dengan makanan halal yang tidak tersedia sepanjang waktu." Contohnya, jika Anda melihat dengan saksama di kemasan ‘sembei’ (kerupuk beras Jepang), di situ ada ekstrak sup ayam, yang mungkin tidak halal," katanya.

Tapi makanan halal dan perbedaan budaya bukan satu-satunya masalah yang mereka hadapi. Suaminya Bhai bertanggung jawab atas masjid Asakusa di wilayah Kanto.

Masjid ini salah satu dari delapan masjid lainnya yang ditetapkan oleh Islamic Circle of Jepang, sebuah organisasi yang didirikan oleh Bhai pada tahun 1997 setelah ia tiba ke negara itu.

Namun suasana di masjid ini berubah sejak peristiwa 9/11. Muslim Jepang, seperti Muslim di banyak negara-negara non-Muslim lainnya di dunia, telah dilabeli dengan sebutan sarang terorisme.

Kampanye Barat terhadap Islam yang menyebarkan kesalahpahaman tentang agama di Jepang juga memengaruhi dampak toleransi masyarakat Jepang kepada umat Muslim yang tinggal di antara mereka.

"Saya sendiri dan banyak umat Islam di Jepang mencintai negeri ini dan sudah menganggapnya sebagai rumah kami. Mengapa kami harus menghancurkan rumah kami sendiri?" tanya Bhai.

Melalui organisasinya, Bhai terus berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat Jepang bahwa umat Islam adalah orang-orang yang cinta damai.

Tetapi meskipun semua hambatan itu, banyak pihak seperti profesor Tanada, sangat optimis akan perkembangan Islam. Dia percaya prospek Muslim dalam masyarakat Jepang dan kesediaan mereka untuk menawarkan niat baik mereka kepada orang-orang di sekitar mereka. "Mereka (Muslim) ingin lebih banyak orang lagi untuk memahami agama mereka." Ujarnya. (sa/onislam)

Ler Mais
 
Gratis Downlaod untuk Semua | Rearrange by ANAMUXLIM ©2010