Video of the day

Utama

TAKUT KAYA

Saturday, December 19, 2009


Ada suatu hal yang mengganjal di hati saya dan ingin saya ungkapkan. Sebenarnya cita-cita saya bukanlah menjadi orang kaya (secara harta), tapi kaya hati, menjadi orang yang dapat memberikan banyak manfaat ke ummat dengan izin Allah. Aamiin.
Sampai saat ini saya masih belum memahami arti pentingnya menjadi orang kaya walaupun mengetahui bahwa orang kaya pun bisa berbuat banyak amal kebajikan pula, misal shodaqoh, infak, zakat, wakaf, santunan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, membangun sekolah islam, masjid, rumah sakit islam, menjadi donatur lembaga islam, pondok pesantren, perpustakaan islam, memberi dana kontinu untuk media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, dan masih banyak lagi.
Bahkan, ketika bekerja pun saya kadang terlupa bahwa nanti dapat imbalan berupa gaji. . Sikap seperti ini dianggap aneh oleh keluarga saya. Menurut saya ini tidak aneh karena saya mengetahui alur berpikir saya bagaimana, tapi bukan berarti hal ini dilupakan. Mungkin ada pendapat dari sahabat yang bisa dituliskan dalam komentar di bawah nanti mengenai urgensinya menjadi orang kaya … .
Menurut saya, bekerja adalah untuk taat, untuk ibadah semata-mata kepada Allah. Walaupun saya sadar, ada beberapa pemikiran saya yang masih perlu diperbaiki terus menerus. Akan tetapi, apa yang saya sampaikan ini dikarenakan ada sesuatu yang saya khawatirkan.
Biasanya orang bisa selamat dari ujian (secara umum) saat keadaan mereka tidak memiliki banyak harta. Kebanyakan manusia tidak lulus ujian ketika diberikan harta yang banyak, harta itu melenakan mereka sehingga ketika awalnya bersemangat untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkannya kemudian menjadi berubah haluan, lebih memilih bisnis dan harta secara berlebihan. Padahal berlebih-lebihan itu temannya syetan. Na’udzubillah.


Apalagi sebagai orang yang bercita-cita menjadi ahlu qur’an, maka tiap hari harus senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran: membaca, memahami, mantadabbburi, mempelajari tafsirnya, mempelajari asbabun nuzulnya, mengamalkannya, lalu mengajarkan dan mendakwahkannya kepada ummat. Selain itu, yang sulit pula adalah menjaga hafalan dengan banyak muraja’ah, menjaga kontinuitas tilawah dan menjaga pengamalan terhadap Al-Quran dan As-Sunnah hingga akhir hayat. Saya sadar, ini sungguh berat. Orang yang tidak mampu atau tidak mau menjalankan amanah ini setelah mendapatkannya maka akan mendapatkan dosa / siksa dari Allah jika belum bertaubat.
Karena ini berat, maka tidak akan bisa dipikul sendirian ketika nanti sudah non-single. Jadi, orang yang hidup bersamanya pun harus bersama-sama menjaga ilmu itu, saling bantu membantu dan saling tolong-menolong untuk menjaganya, dan sesungguhnya Allah-lah yang menjaganya. Intinya, seorang penghafal quran memiliki harapan bahwa pendamping hidupnya itu juga seorang yang hafal quran serta berkeinginan dan bersungguh-sungguh pula untuk menjaga bersama-sama dengannya hingga akhir hayat.
Bisa jadi, dengan menjadi orang kaya, maka kebiasaan membaca Al-Quran luntur, hafalannya mulai menghilang, akhlaknya pun sudah tidak seiring dengan Al-Quran. Na’udzubillah.
Oleh karena itu, sebaiknya seorang hamba sering-seringlah menangis kepada Allah, agar diberikan hati yang kaya, tidak rakus dengan dunia dan dapat tetap hidup sederhana, baik di kala miskin maupun di kala kaya. Selain itu juga memohon kepada-Nya agar diberikan kemampuan untuk menjaga kebersihan hati, ”menjaga” ilmu dan menjaga kontinuitas amal kebajikan……..hingga akhir hayat. Aamiin.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Ya Allah, tiada kesenangan hamba lagi, kecuali taat tunduk patuh kepada-Mu.
Ya Allah, tiada keinginan hamba lagi, kecuali beribadah sepenuhnya….hanya kepada-Mu.
Ya Allah, hanya kepada-Mu lah tempat kembali.

1 comments:

Abu Inayat said...

Assalaamualaikum. kalo saya bukan takut kaya.. cuma takut banyak harta aja....

Post a Comment

 
Gratis Downlaod untuk Semua | Rearrange by ANAMUXLIM ©2010