Video of the day

Utama

1 2 3 4

TAKUT KAYA


Ada suatu hal yang mengganjal di hati saya dan ingin saya ungkapkan. Sebenarnya cita-cita saya bukanlah menjadi orang kaya (secara harta), tapi kaya hati, menjadi orang yang dapat memberikan banyak manfaat ke ummat dengan izin Allah. Aamiin.
Sampai saat ini saya masih belum memahami arti pentingnya menjadi orang kaya walaupun mengetahui bahwa orang kaya pun bisa berbuat banyak amal kebajikan pula, misal shodaqoh, infak, zakat, wakaf, santunan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, membangun sekolah islam, masjid, rumah sakit islam, menjadi donatur lembaga islam, pondok pesantren, perpustakaan islam, memberi dana kontinu untuk media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, dan masih banyak lagi.
Bahkan, ketika bekerja pun saya kadang terlupa bahwa nanti dapat imbalan berupa gaji. . Sikap seperti ini dianggap aneh oleh keluarga saya. Menurut saya ini tidak aneh karena saya mengetahui alur berpikir saya bagaimana, tapi bukan berarti hal ini dilupakan. Mungkin ada pendapat dari sahabat yang bisa dituliskan dalam komentar di bawah nanti mengenai urgensinya menjadi orang kaya … .
Menurut saya, bekerja adalah untuk taat, untuk ibadah semata-mata kepada Allah. Walaupun saya sadar, ada beberapa pemikiran saya yang masih perlu diperbaiki terus menerus. Akan tetapi, apa yang saya sampaikan ini dikarenakan ada sesuatu yang saya khawatirkan.
Biasanya orang bisa selamat dari ujian (secara umum) saat keadaan mereka tidak memiliki banyak harta. Kebanyakan manusia tidak lulus ujian ketika diberikan harta yang banyak, harta itu melenakan mereka sehingga ketika awalnya bersemangat untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkannya kemudian menjadi berubah haluan, lebih memilih bisnis dan harta secara berlebihan. Padahal berlebih-lebihan itu temannya syetan. Na’udzubillah.


Apalagi sebagai orang yang bercita-cita menjadi ahlu qur’an, maka tiap hari harus senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran: membaca, memahami, mantadabbburi, mempelajari tafsirnya, mempelajari asbabun nuzulnya, mengamalkannya, lalu mengajarkan dan mendakwahkannya kepada ummat. Selain itu, yang sulit pula adalah menjaga hafalan dengan banyak muraja’ah, menjaga kontinuitas tilawah dan menjaga pengamalan terhadap Al-Quran dan As-Sunnah hingga akhir hayat. Saya sadar, ini sungguh berat. Orang yang tidak mampu atau tidak mau menjalankan amanah ini setelah mendapatkannya maka akan mendapatkan dosa / siksa dari Allah jika belum bertaubat.
Karena ini berat, maka tidak akan bisa dipikul sendirian ketika nanti sudah non-single. Jadi, orang yang hidup bersamanya pun harus bersama-sama menjaga ilmu itu, saling bantu membantu dan saling tolong-menolong untuk menjaganya, dan sesungguhnya Allah-lah yang menjaganya. Intinya, seorang penghafal quran memiliki harapan bahwa pendamping hidupnya itu juga seorang yang hafal quran serta berkeinginan dan bersungguh-sungguh pula untuk menjaga bersama-sama dengannya hingga akhir hayat.
Bisa jadi, dengan menjadi orang kaya, maka kebiasaan membaca Al-Quran luntur, hafalannya mulai menghilang, akhlaknya pun sudah tidak seiring dengan Al-Quran. Na’udzubillah.
Oleh karena itu, sebaiknya seorang hamba sering-seringlah menangis kepada Allah, agar diberikan hati yang kaya, tidak rakus dengan dunia dan dapat tetap hidup sederhana, baik di kala miskin maupun di kala kaya. Selain itu juga memohon kepada-Nya agar diberikan kemampuan untuk menjaga kebersihan hati, ”menjaga” ilmu dan menjaga kontinuitas amal kebajikan……..hingga akhir hayat. Aamiin.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Ya Allah, tiada kesenangan hamba lagi, kecuali taat tunduk patuh kepada-Mu.
Ya Allah, tiada keinginan hamba lagi, kecuali beribadah sepenuhnya….hanya kepada-Mu.
Ya Allah, hanya kepada-Mu lah tempat kembali.
Ler Mais

JADIKAN IA TEMAN TERBAIK KITA


“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika AL-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS Al-Furqan 27-30).

FENOMENA menarik yang digambarkan ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka sudah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari Al-Quran. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan Al-Quran sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap Al-Quran.
Term khalil (khaliilan) yang bermakna sahabat yang digunakan Allah SWT pada ayat tadi secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat itu dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata sahabat maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka.

Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan Al-Quran. Dikarenakan dalam Al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar bagaimana memulai persahabatan yang positif dan kiat-kiat mengenali sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf 67). Apabila kita jauh dari nilai-nilai Al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Ilahi: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu Al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya.” (QS Az-Zukhruf 36). Intinya, dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: Al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan Al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Quran telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan A’udzubillahi minasy-syaithonir rajim. “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 98). Selain itu, alasan yang cukup kuat mengapa kita harus bersahabat dengan Al-Quran. Karena kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa Al-Quran adalah mukjizat khalidah (mukjizat abadi). Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa shalih fil al-zaman wa al-makan (selalu relevan di setiap waktu dan tempat).

Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al-Quran. Hanya saja, untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya. Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, Al-Quran sendiri memperkenalkan  dirinya sebagai kitab petunjuk (hidayah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nur). Lain kata, Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ternyata manfaat dari bersahabat dengan Al-Quran selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca Al-Quran, meskipun belum mengerti maknanya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan.

http://www.sripoku.com/view/7219/Al-Quran_Sahabat_Terbaik


Ler Mais

Jadikan Ia Teman Terbaik


Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.

Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.



Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.

Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.

Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?

Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu.

Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku.

Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.

Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu.

Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah.

Wallaahu ‘a’lam bishshowaab.
http://ovhi.multiply.com/journal/item/34/Teman_Terbaik
Ler Mais
 
Gratis Downlaod untuk Semua | Rearrange by ANAMUXLIM ©2010