Video of the day

Utama

AKHWAT IDAMAN

Thursday, April 2, 2009


Oleh : Ibn Abd Muis

rose“Terus… criteria wanita idaman antum itu apalagi?”, tanya Indra pada Hanif yang sedang asyik menggigit roti bakarnya.

“Ehh… ooh….”, Hanif sedikit terkejut kemudian tersenyum dan diam sejenak terlihat seperti sedang berpikir.

“Kriteria wanita idaman yang akan ana jadikan istri yang lainnya adalah….” Berhenti sejenak, “Ana ingin sekali mendapatkan seorang istri yang tidak cengeng bila mendapatkan musibah akhi.”
“Loch! Bukannya cengeng itu adalah tabiat wanita?”, timpal Yuda.

“Sedih ketika ditimpa musibah adalah hal yang wajar dan manusiawi. Rasulullah dulu juga pernah menangis ketika putranya Ibrahim meninggal dunia. Cengeng yang ana maksud adalah teriak meraung-raung, meratap-ratap sampai-sampai menampar pipinya sendiri dan merobek bajunya. Menurut ana ini adalah kelakuan manusia yang nggak punya iman. Ini bias mengundang murka Allah dan ana sangat tidak menginginkan istri yang seperti ini,” jelas Hanif.

Tiba-tiba Indra berseru, “Oh iya! Ana pernah baca tuh hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Janaa-iz no. 1298 yang artinya ‘Bukan termasuk golonganku orang yang menampar pipi dan merobek saku baju srta berseru dengan seruan jahiliyyah (ketika mendapat musibah)’ “.
Dalam Fat-hul Baari bab III/165, Abu Musa juga pernah berlepas diri dari Istrinya yang berteriak ketika ia pingsan di pangkuan istrinya. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata ‘Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri darinya. Yaitu wanita yang…. Apa.. ya…. Em… shaaliqah,…. haaliqah dan…. syaaqqah.” Tambah Yuda agak terbata-bata karena lupa.

Mendengar kata-kata

dalam bahasa Arab, Opick jadi mengerenyitkan dahi lagi, “Apaan lagi tuh artinya?”

“Emm… kalau tidak salah, shaaliqah adalah wanita yang mengeraskan suaranya dan meraung-raung ketika mendapat musibah, kalau haaliqah adalah wanita yang menggunting rambutnya ketika mendapat musibah, sementara kalau syaaqqah adalah wanita yang merobek bajunya ketika mendapat musibah, benar begitu akh Yuda?”, jelas Indra menjawab pertanyaan Opick, mendengar penjelasan tersebut, Yuda hanya mengangguk sambil senyum.

“Eith, apa itu tadi…. Haaliqah…. Sepertinya kondisi remaja kita saat ini banyak juga yang seperti itu tuh. Ketika diputusin pacarnya, mereka lantas menggunting rambutnya sampai pendek sekali. Kasian sekali mereka ya. Mereka tidak sadar kalau itu dapat membuat Allah murka terhadapnya.” Celetuk Opick setelah mendengar ucapan Indra, kemudian kepalanya mengarah ke ustadz Ilyas, “Ustadz, adakah dalil lain yang menerangkan apa criteria wanita yang ditakuti Hanif tadi.”

“Ehm..hm…”, dehem ustadz Ilyas, kemudian beliau menjelaskan, “Kalau kita mengkajinya, pasti ada akhi. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitan al-Janaa-iz no. 3131 yang dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ahkaamul Janaa-iz hal, 30, ‘dari seorang wanita yang turut membai’at Rasulullah, ia mengatakan: “Di antara isi janj yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas kami di dalam kebaikan yang mana kami tidak boleh melanggarnya ialah: ‘Kami tidak boleh mencakar-cakar wajah, tidak boleh mengutuk, tidak boleh merobek-robek baju, dan tidak boleh mengacak-acak rambut.’

Juga dalam hadist riwayat Muslim no. 922, kitab al-Janaa-iz dan Ahmad no. 25933, dari ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan: “Ketika Abu Salamah meninggal, aku mengatakan:’Ia asing dan di bumi asing.’ Sungguh aku akan menangisinya dengan tangisan yang akan terus dibicarakan orang. Aku telah siap untuk menangisinya. Tiba-tiba dating seorang wanita dari dataran tinggi bermaksud menyertaiku (dalam tangisan). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadangnya seraya bertanya: ‘Apakah engkau ingin memasukkan syaitan ke dalam rumah yang telah Allah bebaskan darrnya?’ Diucapkannya dua kali. Lalu aku menahan tangisan, sehingga aku tidak menangis. Ana piker ini sudah cukup jelas, dan semoga wanita-wanita kita bias lebih bersabar bila mendapatkan musibah.”

“Amin ustadz…”, seru para ikhwan serempak.

“Terus, criteria wanita idaman antum itu apalagi akhi Hanif”, Tanya Yazid ingin tahu.

“Apa lagi ya?… Emmm…. Teramat banyak manusia saat ini yang sangat meremehkan dosa. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, dari Ahmad no. 22302, ‘Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil, seperti kaum yang berada di peut lembah lalu masing-masing orang membawa sepotong kayu sehingga dapat menanak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu pelakunya dihukum, maka dosa-dosa tersebut akan mencelakakannya.’ Iiiiy… masyaAllah. Karena itu ana tidak ingin mendapatkan wanita yang suka meremehkan dosa.”

Mendengar criteria yang tadi Hanif ucapkan, teman—temannya Cuma mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Terus apa lagi akh?”, Tanya Aris.

“Emmm….”, Hanif menoleh ke Opick yang terus menganga memperhatikan dirinya, “Subhanallah, bila seandainya ana bisa menikah dengan wanita yang senantiasa mempergauli suaminya dengan akhlak mulianya.”

“Wah… kita semua juga pasti menginginkannya akhi. Tapi kenapa antum nengok ke ana? Emangnya ada yang aneh?” sadar Opick kemudian mengambil kopi susunya dan bertanya kepada ustadz Ilyas, “Ustadz, adakah contoh wanita jaman dulu yang berakhlak mulia seperti yang diharapkan Hanif?”

Kemudian ustadz menjawab, “Sebenarnya banyak sekali contoh teladan istri-istri shalihah pada jaman dulu. Diantaranya apa yang terdapat dalam Ahkaamun Nisa’nya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah hal. 82, Ibnu Ja’dabah berkata: ‘Di tengah kaum Quraisy ada seorang pria yang berakhlak buruk. Tetapi tangannya suka berderma, dan dia orang yang berharta. Bila dia menikahi wanita, dipastikan dia akan menceraikannya karena akhlaknya yang buruk dan kurangnya ketabahan istrinya. Kemudian dia meminang seorang wanita Quraisy yang berkedudukan mulia. Ia telah mendapatkan kabar tentang keburukan akhlaknya. Ketika mahar diputuskan di antara keduanya, pria ini berkata: ‘Wahai wanita, sesungguhnya pada diriku terdapat akhlak yang buruk danitu tergantung pada ketabahan, jika engkau bersabar terhdapku (maka kita lanjutkan pernikahan ini), namun jika tidak, maka aku tidak ingin memperdayamu terhadapku.’ Wanita ini mengatakan: ‘Sesungguhnya orang yang akhlaknya lebih buruk darimu ialah orang yang membawamu kepada akhlak yang buruk.’ Akhirnya wanita ini menikah dengannya, dan tidak pernah terjadi di antara keduanya kata-kata (cerai) hingga kematian memisahkan diantara ke duanya.”

“Waah… subhanallah ya. Karena akhlak istrinya yang mulia. Tabiat kasar suaminyapun bisa berubah dengan ijin Allah. Subhanallah”, ujar Opick takjub.

Kali ini Yoga yang penasaran, “Terus akh, masih ada lagi kan?”.

0 comments:

Post a Comment

 
Gratis Downlaod untuk Semua | Rearrange by ANAMUXLIM ©2010