Ada suatu hal yang mengganjal di hati saya dan ingin saya ungkapkan. Sebenarnya cita-cita saya bukanlah menjadi orang kaya (secara harta), tapi kaya hati, menjadi orang yang dapat memberikan banyak manfaat ke ummat dengan izin Allah. Aamiin.
Sampai saat ini saya masih belum memahami arti pentingnya menjadi orang kaya walaupun mengetahui bahwa orang kaya pun bisa berbuat banyak amal kebajikan pula, misal shodaqoh, infak, zakat, wakaf, santunan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, membangun sekolah islam, masjid, rumah sakit islam, menjadi donatur lembaga islam, pondok pesantren, perpustakaan islam, memberi dana kontinu untuk media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, dan masih banyak lagi.
Bahkan, ketika bekerja pun saya kadang terlupa bahwa nanti dapat imbalan berupa gaji. . Sikap seperti ini dianggap aneh oleh keluarga saya. Menurut saya ini tidak aneh karena saya mengetahui alur berpikir saya bagaimana, tapi bukan berarti hal ini dilupakan. Mungkin ada pendapat dari sahabat yang bisa dituliskan dalam komentar di bawah nanti mengenai urgensinya menjadi orang kaya … .
Menurut saya, bekerja adalah untuk taat, untuk ibadah semata-mata kepada Allah. Walaupun saya sadar, ada beberapa pemikiran saya yang masih perlu diperbaiki terus menerus. Akan tetapi, apa yang saya sampaikan ini dikarenakan ada sesuatu yang saya khawatirkan.
Biasanya orang bisa selamat dari ujian (secara umum) saat keadaan mereka tidak memiliki banyak harta. Kebanyakan manusia tidak lulus ujian ketika diberikan harta yang banyak, harta itu melenakan mereka sehingga ketika awalnya bersemangat untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkannya kemudian menjadi berubah haluan, lebih memilih bisnis dan harta secara berlebihan. Padahal berlebih-lebihan itu temannya syetan. Na’udzubillah.
Apalagi sebagai orang yang bercita-cita menjadi ahlu qur’an, maka tiap hari harus senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran: membaca, memahami, mantadabbburi, mempelajari tafsirnya, mempelajari asbabun nuzulnya, mengamalkannya, lalu mengajarkan dan mendakwahkannya kepada ummat. Selain itu, yang sulit pula adalah menjaga hafalan dengan banyak muraja’ah, menjaga kontinuitas tilawah dan menjaga pengamalan terhadap Al-Quran dan As-Sunnah hingga akhir hayat. Saya sadar, ini sungguh berat. Orang yang tidak mampu atau tidak mau menjalankan amanah ini setelah mendapatkannya maka akan mendapatkan dosa / siksa dari Allah jika belum bertaubat.
Karena ini berat, maka tidak akan bisa dipikul sendirian ketika nanti sudah non-single. Jadi, orang yang hidup bersamanya pun harus bersama-sama menjaga ilmu itu, saling bantu membantu dan saling tolong-menolong untuk menjaganya, dan sesungguhnya Allah-lah yang menjaganya. Intinya, seorang penghafal quran memiliki harapan bahwa pendamping hidupnya itu juga seorang yang hafal quran serta berkeinginan dan bersungguh-sungguh pula untuk menjaga bersama-sama dengannya hingga akhir hayat.
Bisa jadi, dengan menjadi orang kaya, maka kebiasaan membaca Al-Quran luntur, hafalannya mulai menghilang, akhlaknya pun sudah tidak seiring dengan Al-Quran. Na’udzubillah.
Oleh karena itu, sebaiknya seorang hamba sering-seringlah menangis kepada Allah, agar diberikan hati yang kaya, tidak rakus dengan dunia dan dapat tetap hidup sederhana, baik di kala miskin maupun di kala kaya. Selain itu juga memohon kepada-Nya agar diberikan kemampuan untuk menjaga kebersihan hati, ”menjaga” ilmu dan menjaga kontinuitas amal kebajikan……..hingga akhir hayat. Aamiin.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Ya Allah, tiada kesenangan hamba lagi, kecuali taat tunduk patuh kepada-Mu.
Ya Allah, tiada keinginan hamba lagi, kecuali beribadah sepenuhnya….hanya kepada-Mu.
Ya Allah, hanya kepada-Mu lah tempat kembali.
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika AL-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS Al-Furqan 27-30). FENOMENA menarik yang digambarkan ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka sudah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari Al-Quran. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan Al-Quran sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap Al-Quran. Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan Al-Quran. Dikarenakan dalam Al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar bagaimana memulai persahabatan yang positif dan kiat-kiat mengenali sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf 67). Apabila kita jauh dari nilai-nilai Al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Ilahi: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu Al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya.” (QS Az-Zukhruf 36). Intinya, dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: Al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan Al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Quran telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan A’udzubillahi minasy-syaithonir rajim. “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 98). Selain itu, alasan yang cukup kuat mengapa kita harus bersahabat dengan Al-Quran. Karena kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa Al-Quran adalah mukjizat khalidah (mukjizat abadi). Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa shalih fil al-zaman wa al-makan (selalu relevan di setiap waktu dan tempat). Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al-Quran. Hanya saja, untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya. Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, Al-Quran sendiri memperkenalkan dirinya sebagai kitab petunjuk (hidayah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nur). Lain kata, Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ternyata manfaat dari bersahabat dengan Al-Quran selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca Al-Quran, meskipun belum mengerti maknanya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan. http://www.sripoku.com/view/7219/Al-Quran_Sahabat_Terbaik
Term khalil (khaliilan) yang bermakna sahabat yang digunakan Allah SWT pada ayat tadi secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat itu dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata sahabat maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka.